kasus Kekerasan dalam Rumah Tangga (KDRT) Dalam Pandangan Islam

“Dan pergaulilah mereka (para isteri) secara makruf”
-Alquran QS. An-Nisa’, 4: 19-

Hingga saat ini kasus Kekerasan dalam Rumah Tangga (KDRT) masih merupakan fenomena sosial yang meresahkan. Ironisnya, tak jarang kasus-kasus KDRT yang umumnya menempatkan perempuan (isteri) dan anak-anak sebagai pihak yang rentan menjadi korban justru dilindungi oleh struktur budaya patriarkhi yang cenderung membiarkan hal itu terjadi tanpa koreksi. Bagaimana Islam menyikapi fenomena tersebut?

Asas Makruf

Dalam pandangan Islam, selain sebagai sarana yang halal untuk penyaluran hasrat seks dan harapan mempunyai keturunan yang baik (hifdz al-‘ird wa al-nasl), perkawinan lebih utamanya ditujukan juga untuk menemukan makna sakinah (ketenangan hati) dan mawaddah wa rahmah (cinta dan kasih sayang) dalam bingkai kehidupan rumah tangga yang harmonis dan lestari [QS. ar-Rum, 30: 21].

Oleh karenanya, Islam menetapkan prinsip mu’aasyarah bi al-ma’ruuf atau keharusan memberikan perlakuan yang makruf di antara pasangan suami isteri (pasutri) sebagai tuntunan dasar yang melandasi seluruh sendi ajaran, etika dan hukum Islam tentang perkawinan [QS. an-Nisa’, 4: 19].

Perlakuan yang makruf, sebagaimana dikemukakan para mufassir dan fukaha, diartikan secara luas sebagai ”segala sikap dan tindakan yang dianggap baik dan benar secara teologis (sesuai syariat), logis (sesuai akal budi), sosiologis (sesuai ‘urf atau pandangan dan kebiasaan umum masyarakat setempat), dan psikologis (dapat diterima dengan kelegaan hati)”.

Ini berarti prinsip kebaikan yang ditekankan dalam relasi suami isteri tidak hanya diukur secara obyektif sebagaimana ditentukan oleh syariat, akal budi dan pandangan umum masyarakat setempat, akan tetapi juga harus diukur secara subyektif berdasarkan kondisi dan kecenderungan personal dari masing-masing pasutri baik secara fisik maupun mental.

Hindari Kekerasan

Pada tataran teknis-operasional, Nabi sendiri sempat menjelaskan beberapa contoh kode etik penerapan prinsip mu’asyarah bi al-ma’ruuf di atas. Di antaranya adalah dengan menghindari terjadinya praktek KDRT baik secara fisik maupun mental.

Sabda Nabi: ”Datangilah ladangmu (yakni isteri) sebagaimana kamu kehendaki. Beri dia makan saat kamu makan, dan pakaian saat kamu berpakaian. Jangan kamu memburuk-burukkan wajah (ataupun diri)-nya, dan jangan pula kamu memukulinya.” [HR. Ahmad dan Abu Dawud].

Nabi juga bersabda: ”Ambillah wasiat dariku berkenaan dengan isteri-isteri kalian, perlakukan mereka dengan baik.” [HR. Bukhari dan Muslim]. ”Orang mukmin yang paling sempurna keimanannya adalah yang paling baik akhlaq dan budi pekertinya. Dan sebaik-baik kalian adalah yang terbaik memperlakukan isterinya,” tegas Nabi [HR. Ahmad dan Tirmidzi].

Dalam konteks yang lebih umum, Nabi juga menegaskan bahwa KDRT, apapun bentuk dan alasannya, sudah pasti akan berimplikasi buruk dan berbuah kemudaratan, karena itu KDRT patut diwaspadai dan harus mungkin dihindari. Rasulullah bersabda: ”Sebuah keluarga/rumah tangga tidak akan dikaruniai kelemahlembutan (al-rifq) kecuali hal itu akan berbuah manfaat bagi mereka, dan (sebaliknya) mereka tidak akan dijauhkan dari kelemahlembutan (yakni telah terjadi kekerasan di antara mereka) kecuali hal itu akan berbuah kemudaratan bagi mereka.” [QS. Thabrani, dari ‘Ubaidillah ibn Ma’mar ra.].

Tafsir Ayat 34 Surah An-Nisa’

Dalam bingkai pemahaman inilah, ketentuan hukum yang menegaskan diperbolehkannya suami ”memukul” isteri yang berbuat nusyuz (pembangkangan terhadap hak-hak suami) mesti dipahami secara proporsional. Firman Allah, ”…Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuz-nya maka nasihatilah mereka dan tinggalkan mereka di tempat-tempat pembaringan dan pukullah mereka. Lalu, jika mereka telah menaati kamu maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkan mereka. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.” (QS. al-Nisa’, 4: 34).

Kata ”pukullah” pada terjemahan ayat di atas merupakan interpretasi tekstual dari kata dharb (bahasa Arab) yang pada ayat itu digunakan dalam bentuk kalimat perintah dan plural. Yang perlu dicatat adalah, kata dharb (pukul; memukul) dalam bahasa Arab tidak selalu identik dengan perlakuan yang menyakiti, keras dan kasar. Dalam QS. al-Nisa’, 4; 101, misalnya, orang yang berjalan kaki atau musafir disebut sebagai orang yang melakukan al-dharb fi al-ardh yang secara harfiah berarti ”memukul di bumi”.

Karena itu, banyak ulama memahami kata dharb dalam ayat tersebut, berdasarkan penjelasan Nabi, sebagai ”memukul yang tidak menyakitkan dan tidak melukai”. Ini sejalan dengan sabda Nabi, ”Takutlah kepada Allah berkenaan dengan isteri-isterimu, karena mereka itu di hadapanmu ibarat tawanan (harus dipelihara hak-haknya; tidak boleh diperlakukan semena-mena). Dan hakmu atas mereka adalah tidak diperbolehkannya mereka menyilakan orang lain yang tidak kamu kehendaki memasuki rumahmu. Jika hal itu dilakukan maka pukullah mereka dengan pukulan yang tidak menyakiti atau melukai. Dan hak mereka atasmu adalah memberinya nafkah dan pakaian secara makruf.” (HR. Muslim).

Para ulama mengilustrasikan, pukulan yang tidak menyakitkan dan melukai itu seperti pukulan dengan sapu tangan. Pertanyan kita, apakah ada suami yang sedang marah ketika memukul isterinya tidak menyakiti dan melukai? Yang sering terjadi, bukan memukul dengan sapu tangan, melainkan dengan sapu dan tangan. Jika demikian halnya, apapun masalahnya, memukul bukanlah solusi karena biasanya dilakukan dengan cara yang melanggar syariat itu sendiri.

Dengan demikian, pengertian ”pukullah” pada ayat di atas lebih tepat dipahami dan dipraktekkan sebagai ”marahilah”. Termasuk yang berpendapat demikian adalah Atha’ ibn Abi Rabah, yang kemudian dipertegas oleh Ibn al-Arabi dan Ibn Asyur. ”Seorang suami tidak boleh memukul isterinya, akan tetapi cukup memarahinya,” tegas Atha’ (lihat tafsir Ibn Asyur, al-Tahrir wa al-Tanwir).
Karena itu, mereka yang cenderung suka memukul isterinya, apalagi hanya karena pelanggaran-pelanggaran kecil, Nabi menyebutnya sebagai ”bukan tergolong kaum mukmin yang pilihan, laisa ula’ika min khiyarikum” (HR. Abu Dawud, Nasa’i, dan Ibn Majah).

”KDRT” yang Diperlukan

Semua ini menunjukkan bahwa Alquran dengan konsepsi makruf yang dibangun adalah sangat anti-KDRT (Kekerasan dalam Rumah Tangga), baik dilakukan secara fisik, psikis, atau yang lainnya. Berdasarkan konsespi makruf ini pula, semua teks baik dari Alquran maupun hadis yang makna dhahir-nya mengesankan pengertian yang pro-KDRT sudah semestinya dikoreksi ulang dan diluruskan pemaknaannya dengan merujuk kepada konsepsi makruf itu sendiri.

Alhasil, Alquran adalah sangat anti-KDRT (Kekerasan dalam Rumah Tangga). Tapi, pada saat yang sama, Alquran juga pro-”KDRT”; bahkan menjadikannya sebagai ruh ajaran dan prinsip etis utamanya dalam masalah relasi suami-isteri. Inilah ”KDRT” ala Alquran. Yaitu, ”KDRT” yang dijabarkan dengan: ”Kemakrufan dalam Rumah Tangga”; bukan KDRT yang maksudnya adalah: ”Kekerasan dalam Rumah Tangga”.**

Ditulis Oleh: Umar Fayumi – IbadahNews

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *