Raih Surga Dengan Harta

“Harta kekayaan itu hijau dan manis. Dia yang mendapatkan dan mengelolanya dengan kemuliaan jiwa niscaya akan diberkahi. Sementara dia yang mendapatkan dan mengelolanya dengan ketamakan jiwa niscaya akan dijauhkan dari keberkahan” -Sabda Rasulullah saw; HR. al-Bukhari & Muslim-

Di lingkungan masyarakat kita banyak ditemukan anggapan keliru tentang harta kekayaan dan uang. Sebagian ada yang kebablasan hingga menilai uang ataupun kekayaan adalah segala-galanya. Ia dijadikan sebagai tujuan utama. Bahkan dikejar dengan menghalalkan segala cara. Sebaliknya, ada juga yang berpandangan sangat minor tentang uang dan harta kekayaan. Ia dianggap identik dengan sesuatu yang menyesatkan, menjerumuskan orang ke dalam dosa, merupakan sumber masalah atau konflik, dan hal-hal buruk lainnya.

Harta Itu Berkah

Sebenarnya uang atau kekayaan itu sendiri sifatnya adalah netral. Ia bisa menjadi baik atau buruk tergantung bagaimana kita memperlakukannya. Dalam Alquran sendiri, QS. al-‘Adiyat, 100: 8, uang atau harta kekayaan disebut dengan istilah “al-khair” yang berarti “kebaikan”. Namun, dalam QS. al-Fajr, 89: 15-20 Alquran juga mengingatkan bahwa kecintaan yang berlebihan terhadap harta, hingga memperlakukannya secara tidak benar, adalah perbuatan dosa yang akan berdampak sangat buruk bagi kehidupan di dunia dan akhirat.

Harta kekayaan disebut “al-khair” atau “kebaikan” adalah karena apabila ia diperoleh dan dipergunakan dengan cara dan untuk hal-hal yang benar dan halal maka ia akan menjadi sumber keberkahan bagi kehidupan banyak orang. Dengan uang dan harta manusia dapat memenuhi kebutuhan dan kesenangan hidupnya —seperti makan, pakaian, pendidikan, rumah, mobil, liburan keluarga, jaminan kesehatan, dan lain sebagainya.

Lebih dari itu, uang dan kekayaan juga sangat bermanfaat jika dipakai untuk tabungan, asuransi, modal bisnis dan investasi yang berpotensi menghasilkan profit serta dapat membantu meringankan beban keuangan di masa-masa mendatang. Bahkan, dengan harta dan uang pula seseorang dapat memenuhi kebutuhan-kebutuhan religius, spiritual dan hal-hal mulia lainnya; misalnya untuk berhaji, umrah, zakat, infak, sedekah, membangun masjid, mengembangkan panti-panti asuhan, mendirikan yayasan sosial, dan lain sebagainya.

Dalam konteks seperti itulah Rasulullah menjelaskan bahwa harta kekayaan itu hijau dan manis. Ia merupakan susuatu yang memukau dan memikat hati. Maka, barangsiapa mendapatkan serta mengelolanya dengan kemuliaan jiwa niscaya akan diberkahi. Dari sanalah Alquran memberikan prediket “al-khair” atau “sumber kebaikan” kepada harta kekayaan.

Begitu pula sebaliknya. Barangsiapa mendapatkan serta mengelola hartanya dengan jiwa yang tamak niscaya akan dijauhkan dari keberkahan. Ketamakan itulah yang menjadikan harta sebagai sumber malapetaka, membawa laknat dan menimpakan kemudaratan bagi kehidupan umat manusia.

Halal dan Thayyib

Harta kekayaan akan menjadi sumber kebaikan dan keberkahan jika diperoleh dan dikelola secara halal dan “thayyib”. Halal berarti didapatkan dari hasil usaha yang sah dan dibenarkan menurut ajaran Islam, serta dipergunakan untuk hal-hal yang tidak dilarang oleh Allah dan Rasul-Nya. Sedangkan “thayyib” atau baik dapat diartikan sebagai “tepat rencana, tepat guna, tepat sasaran, tepat nilai dan tepat tujuan”.

Berikut ini beberapa hal yang perlu diperhatikan agar tata kelola kekayaan dan keuangan kita sesuai dengan prinsip “thayyib” dan karenanya membawa keberkahan bagi kehidupan kita baik di dunia maupun di akhirat. Yaitu:

a. Niatkan untuk ibadah

Yang harus diperhatikan pertama kali tentunya adalah memperhitungkan aspek kehalalan sumber kekayaan dan alokasi pembelanjaannya, kemudian meniatkan apapun yang kita lakukan dalam usaha mendapatkan dan membelanjakan harta kekayaan tersebut sebagai ibadah dan wujud rasa syukur kita kepada Allah swt. Spirit inilah yang berpotensi menguatkan kesadaran, memupuk kemuliaan dan menjauhkan jiwa kita dari kerakusan dan ketamakan terhadap harta. Ingat kata orang bijak: tamakmu adalah nerakamu.

b. Perhatikan asas prioritas

Dalam mengelola kekayaan dan keuangan diperlukan kecakapan melihat dan menentukan prioritas. Dalam konteks ini para ulama membuat klasifikasi keperluan manusia ke dalam 3 tingkatan, yakni 1) “dharuriyyat” atau kebutuhan pokok yang tidak dapat ditunda, 2) “haajiyyat” atau kebutuhan penunjang yang juga sangat penting adanya, meskipun dapat ditunda untuk sementara waktu, dan 3) “tahsiniyyat” atau keperluan pelengkap yang sebenarnya tidak begitu diperlukan, tapi jika hal itu dapat diwujudkan maka akan menjadikan kesejahteraan seseorang jauh lebih sempurna dan lengkap.

c. Harus seimbang

Hal lain yang perlu diperhatikan juga adalah keseimbangan. Artinya, prosentasi pendistribusian kekayaan baik untuk konsumsi, investasi, tabungan, asuransi, dan lain sebagainya haruslah berimbang dan proporsional.

Inilah prinsp keseimbangan neraca yang antara lain diinspirasikan dalam QS. ar-Rahman, 55: 7-9, ”Dan langit, Dia telah meninggikannya; dan Dia telah meletakkan pula neraca. Janganlah kamu berbuat curang dalam neraca itu. Dan tegakkanlah neraca itu secara berimbang, dan janganlah kamu mengurang-nguranginya”. Asas keseimbangan ini pula yang ditegaskan dalam ayat sebagaimana dikutip pada headline di atas.

d. Melihat jauh ke Depan

Berlaku hemat, suka menabung dan cerdas berinvestasi merupakan tiga hal yang tak kalah pentingnya dalam kaitannya dengan upaya mengelola keuangan dan kekayaan secara “thayyib”. Perlu dilakukan upaya “mengamankan” hari esok agar kita dan keturunan kita tidak jatuh miskin dan menjadi orang-orang lemah secara ekonomi sehingga membebani orang lain.

Allah berfirman: “Dan hendaklah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka, hendaklah mereka takut (agar terjadinya hal seperti itu dapat dihindarkan)…” [QS. an-Nisaa’, 4: 9]. Dalam konteks ini secara tegas Rasulullah bersabda, ”Manfaatkanlah dengan sebaik-baiknya lima hal sebelum datangnya lima hal; 1) masa mudamu sebelum masa tuamu, 2) masa sehatmu sebelum masa sakitmu, 3) ketika kamu masih berkecukupan sebelum kamu jatuh melarat, 4) waktu luangmu sebelum kamu sangat sibuk, dan 5) hidupmu sebelum datang ajalmu” [HR. al-Hakim, dari Ibn ‘Abbas ra.].

Semua itu mengajarkan kepada kita agar senantiasa melihat jauh ke depan dan melakukan upaya “pengamanan” bagi kesejahteraan kita dan keturunan kita di hari esok.

e. Waspadai ilusi kekayaan

Salah satu doa yang seringkali diucapkan oleh Nabi saat memohon kepada Tuhannya adalah ”Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepadamu dari keadaan terlindih hutang…” (HR. an-Nasa’i, dari Abdullah ibn ‘Amr ra.).

Hadis ini mengisyaratkan, meskipun hutang boleh-boleh saja dilakukan, terutama di saat kekurangan finansial dan untuk menutup kebutuhan yang sangat mendesak, namun bagaimanapun juga kondisi di mana seseorang terlindih hutang merupakan keadaan yang sangat tidak menyenangkan dan bahkan bisa jadi akan memperburuk neraca keuangannya, maka sudah sepantasnyalah bila hal itu patut dihindari dan dimintakan perlindungan kepada Allah agar kita bisa terhindar dari keadaan terlindih hutang.

Sikap manghindari hutang dan mengelola hutang dengan baik tersebut sejatinya merupakan hal yang sangat penting untuk diperhatikan agar seseorang tidak terjebak dalam ilusi kekayaan; bersikap seolah-olah kaya, padahal harta kekayaannya itu didapatkan dari berhutang. Ini sangat penting diperhatikan.

Utamanya saat-saat sekarang ini di mana iming-iming hutang bank, termasuk tawaran kartu kredit, hampir menjadi hal yang dicari dan digemari, bahkan pada tataran tertentu sudah menjadi tren, dan lebih ironisnya lagi telah dijadikan ukuran ”kemapanan” dan gengsi seseorang.

f. Berkahkan harta

Prinsip lain yang perlu diperhatikan juga adalah asas pemberkahan harta. Maksudnya, aneka macam pembelanjaan yang kita lakukan sudah sepatutnya didasarkan pada asas manfaat, yaitu lebih mendahulukan pembelanjaan untuk hal-hal yang lebih banyak manfaatnya, bukan hanya dapat dinikmati secara pribadi, tapi juga dapat berbagi kenikmatan dengan orang lain, dan yang fungsi kemanfaatannya bisa berlangsung dalam rentang waktu yang cukup lama.

Dalam hal ini, terdapat suatu kaedah fikiah yang menyebutkan bahwa ”sesuatu hal yang manfaatnya berdampak luas untuk banyak orang (dan tahan lama) adalah jauh lebih baik daripada sesuatu hal yang manfaatnya terbatas pada beberapa orang saja (dan berjangka pendek)”.

g. Pandai mengantisipasi resiko

Dalam Alquran QS. at-Thalaq, 65:4 disebutkan: “…dan barangsiapa bertakwa kepada niscaya Dia (Allah) akan menjadikan untuknya kemudahan dari urusan (yang dihadapinya)”.

Takwa secara kebahasaan berarti “membuat sistem perlindungan dari bahaya yang mengancam”; terkait dengan uruan ukhrawi berarti harus memperhitungkan mana yang diridhai Allah atau tidak sehingga terhindar dari ancaman kemurkaan-Nya, dan dalam urusan duniawi berarti menjauhi sebisa mungkin tindakan-tindakan yang beresiko tinggi dengan cara memperhitungkan sunnatullah atau hukum sebab-akibat sebagaimana ditetapkan Allah —sejauh yang bisa kita pahami dari fakta sejarah dan fenomena alamiah.

Dengan bertakwa dan selalu memperhitungkan serta mengantisipasi resiko dalam mengelola keuangan dan kekayaan yang kita miliki, insya Allah kita akan senantiasa mendapatkan kemudahan finansial dan memperoleh jalan keluar di setiap kesulitan ekonomi yang kita hadapi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *