Ketika Ikhlas Berbicara

“Dia (Iblis) berkata: Maka dengan kemahaperkasaan-Mu akan kuperdaya mereka (umat manusia); kecuali hamba-hamba-Mu dari mereka yang dianugerahi keikhlasan” [Alquran, QS. Shad, 38: 82-83] Kata ikhlas lazim digunakan dalam percakapan sehari-hari. Arti atau makna yang dimaksudkan pun beragam. Antara lain ialah menunjukkan arti ”rela; memberi dengan sepenuh hati; tabah menghadapi musibah; mau menerima kenyataan; merasa cukup dengan rezeki yang didapat; dan seterusnya”. ”Sudahlah. Ikhlaskan saja. Toh jumlah nominalnya tak seberapa”. ”Berarti anda sewaktu memberikan hadiah itu kepadaku tidak benar-benar ikhlas ya. Pantas saja sering diungkit-ungkit”. ”Ini adalah musibah. Hadapi saja dengan penuh keikhlasan”. ”Meski tahu kalau ini salah dan dosa, tapi saya ikhlas menjalaninya demi masa depan anak-anak saya”.

Itulah beberapa contoh penggunaan kata ikhlas dengan ragam artinya yang berbeda-beda. Dalam KBBI sendiri, ikhlas diartikan ”bersih hati; tulus hati”, semisal dalam ungkapan ”memberi pertolongan dengan ikhlas —artinya setulus hati, tanpa pamrih”. Sementara itu, keikhlasan dijabarkan sebagai ”ketulusan hati; kejujuran; kerelaan”. Ditelusuri secara filologis, kata ikhlas sejatinya adalah serapan dari kata Arab: al-ikhlash, bentukan huruf dasar kha’-lam-shad, yang simpul maknanya menunjukkan ”keadaan sesuatu yang murni, tak tercampuri hal yang membuat buruk, tulus, merupakan saripati, dan bergerak lancar atau bebas tanpa hambatan”.

Bertolak dari pengertian ini, juga dari hasil penelitian mengenai penggunaan Alquran dan hadis terhadap kata ikhlas, para ulama mengajukan beberapa pendapat terkait penjabaran makna terminologi ikhlas. Di antaranya, ikhlas ialah berarti “menjadikan tujuan amal dan ibadah semata-mata hanyalah untuk Allah”. Maksudnya, jika kita sedang melaksanakan amal ibadah tertentu, misalnya, maka hati dan wajah kita sepenuhnya tertuju kepada Allah, bukan kepada manusia. Ada juga yang mendeskripsikan ikhlas sebagai “membersihkan amal atau perbuatan dari menghitung-hitung komentar penilaian orang lain”.

Yaitu, ketika kita sedang melakukan suatu amalan dan perbuatan tertentu, maka kita selalu berupaya dengan sekuat tenaga untuk membersihkan jiwa kita dari memperhitungkan komentar dan penilaian seperti apa yang kiranya akan diberikan orang lain tentang apa yang kita perbuat. Kita tidak ingin dipuji atau takut dicaci-maki. Ikhlas juga diartikan sebagian ulama sebagai “fenomena satunya tindakan dan amal perbuatan seseorang dengan apa yang disimpan di dalam batin dan diucapkan oleh lidahnya”. Artinya, tidak ada kemunafikan di dalam dirinya, baik perkataan, pikiran, perasaan maupun tindakan. Semuanya dilandasi dengan ketulusan dan kejujuran hanya demi kebaktiannya kepada Allah semata.

Berbagai penggunaan kata ikhlas di dalam Alquran dan hadis Nabi seluruhnya menunjukkan pengertian-pengertian terminologis sebagaimana diungkapkan di atas. Kata kuncinya adalah ”tulus dan murni karena Allah; tidak menduakan-Nya dengan yang lain”. Inilah makna ikhlas yang sesungguhnya. Dengan begitu, keikhlasan sejatinya bersifat dinamis dan aktif di mana seseorang berposisi sebagai subyek pelaku, bukan sekedar obyek penderita. Kemudian, kriteria ikhlas pada tataran implementasinya juga hanya berkaitan dengan hal-hal yang baik, benar, halal dan diridai oleh Allah.

Keikhlasan tak bisa jalan beriringan dengan perbuatan maksiat. Alhasil, makna-makna lain dari kata ikhlas yang terlanjur beredar luas di kalangan masyarakat umum, yang sebagiannya juga ”direkam” di dalam KBBI, menurut hemat penulis, sejatinya merupakan satu dari sekian banyak fenomena salah kaprah yang terjadi dalam penggunaan bahasa dan istilah-istilah. Untuk menunjukkan arti ”rela; kerelaan; merelakan” atau ”memberi dengan sepenuh hati”, istilah atau kata yang sesungguhnya tepat digunakan adalah ”ridha” (dalam bahasa Indonesia dieja: rida), bukan ”ikhlas”. Begitu juga, untuk mengungkapkan arti ”tabah menghadapi musibah” atau ”mau menerima kenyataan pahit”, istilah yang lebih pas adalah ”sabar” (dari kata Arab: as-shabr).

Sementara untuk menunjukkan arti ”merasa cukup dengan rezeki yang didapat”, istilah yang benar ialah ”qana’ah” (dieja dalam bahasa Indonesia: kanaah). Dan untuk menyatakan ”keteguhan hati yang tak mudah menyerah dalam berikhtiar, meskipun berulangkali gagal, dengan senantiasa berserah diri kepada Allah”, istilah yang tepat adalah tawakal (dari kata Arab: at-tawakkul).
Umar Fayumi – IbadahNews

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *