Hubungan Baik Dengan Masyarakat Bag. 1

“Kewajiban seorang muslim atas muslim lainnya ada lima: Menjawab salam, mengunjungi orang sakit, mengiringkan jenazah, memenuhi undangan, dan menjawab orang bersin”

(HR Khamsah)

Selain dengan tamu dan tetangga, seorang muslim harus dapat berhubungan baik dengan masyarakat yang lebih luas, baik di lingkungan pendidikan, kerja, sosial dan lingkungan lainnya. Baik dengan orang-orang yang seagama, maupun dengan pemeluk agama lainnya.

Hubungan baik dengan masyarakat diperlukan karena tidak ada seorangpun yang dapat hidup tanpa bantuan masyarakat. Lagi pula hidup bermasyarakat sudah merupakan fitrah manusia. Dalam surat Al Hujurat ayat 13 dinyatakan bahwa manusia diciptakan dari lelaki dan perempuan, bersuku-suku dan berbangsa-bangsa agar mereka saling kenal mengenal. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa, menurut Al Quran, manusia secara fitrah adalah makhluk sosial dan hidup bermasyarakat merupakan suatu keniscayaan bagi mereka.

Pada dasarnya, tidak ada bedanya antara tata cara pergaulan bermasyarakat sesama muslim dengan non muslim. Kalaupun ada perbedaaan, hanya terbatas dalam beberapa hal yang bersifat ritual keagamaan.

Kewajiban Sosial sesama Muslim

Untuk terciptanya hubungan baik sesama muslim dalam masyarakat, setiap orang harus mengetahui hak dan kewajibannya masing-masing sebagai anggota masyarakat. Dalam sebuah hadist, Rasulullah SAW menyebutkan ada lima kewajiban seorang muslim atas muslim lainnya.

  1. Menjawab Salam

Mengucapkan dan menjawab salam hukumnya berbeda. Mengucapkannya sunnah, menjawabnya wajib. Hal itu dapat dimengerti karena tidak menjawab salam yang diucapkan, tidak hanya dapat mengecewakan orang yang mengucapkannya, juga dapat menimbulkan kesalahpahaman. salam harus dijawab minimal dengan salam yang seimbang, tapi akan lebih baik lagi bila dijawab dengan salam yang lebih lengkap. Allah SWT berfirman:

“Apabila kamu dihormati dengan suatu penghormatan, balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik, atau balaslah (dengan yang serupa). Sesungguhnya Allah memperhitungkan segala sesuatu.” (QS An Nisa : 86)

  1. Mengunjungi Orang Sakit

Menurut Rasulullah SAW, orang-orang yang beriman itu ibarat satu batang tubuh, apabila salah satu anggota tubuh sakit, yang lain ikut prihatin.

Salah satu cara menerapkan hadits di atas adalah dengan meluangkan waktu mengunjungi saudara yang sakit. Kunjungan teman, saudara, adalah ‘obat yang mujarab’ bagi si sakit. Dia merasa senang karena masih ada sahabat untuk berbagi duka. Pribahasa mengatakan, ‘teman ketawa banyak, teman menangis sedikit’.

Betapa pentingnya mengunjungi orang sakit itu dapat terlihat dalam hadits qudsi berikut ini. Rasulullah SAW bersabda:

“Sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla berfirman pada hari Kiamat: “Hai anak Adam, Aku sakit, kenapa kamu tidak datang mengunjungiku?” Anak Adam menjawab: “Ya Tuhan, bagaimana aku akan mengunjungi-Mu sedangkan Engkau adalah Tuhan Semesta Alam?” Allah berfirman: “Tidakkah kamu tahu bahwa si Fulan hamba-Ku sakit, kenapa kamu tidak mengunjunginya?” Tahukah kamu jika kamu mengunjunginya niscaya kamu akan menemui-Ku di sisinya..” (HR Muslim)

  1. Mengiringkan Jenazah

Apabila seseorang meninggal dunia, masyarakat secara kifayah wajib memandikan, menshalatkan dan menguburkannya. Rasulullah SAW sangat menganjurkan kepada masyarakat untuk dapat menshalatkan dan mengantarkan jenazah ke kuburan bersama-sama. Beliau bersabda:

“Barangsiapa yang menyaksikan jenazah lalu ikut menshalatkannya, baginya satu qirath. Dan barangsiapa yang menyaksikannya sampai dikuburkan, baginya dua qirath.” Ditanyakan orang : “Apa itu dua qirath?” Beliau bersabda: “Seperti dua gunung yang besar (pahalanya).” (H. Muttafaqun ‘Alaih)

Mengantarkan jenazah sampai ke kuburan, di samping untuk mengurangi kedukaan ahli waris yang ditinggalkan, juga sangat penting untuk mengingatkan, bahwa cepat atau lambat tapi pasti, setiap orang pasti akan mengalami kematian, oleh sebab itu bersiap-siaplah menghadapinya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *