Berkaca Dengan Sang Teladan. Sayyidina Muhammad SAW

Cobalah kita sedikit menengok bagaimana keadaan gaya hidup Rasulullah, pemimpin seluruh anak Adam. Beliau lah orang yang yang paling mengerti hakekat dunia dan akhirat, beliau pula orang yang paling mengerti kadar masing-masing, cara menghargainya,, dan bagaimana menyikapinya.

Dikisahkan oleh Umar bin Khattab dalam hadits yang diriwayatkan oleh Al Bukhari dan Muslim, Umar menceritakan sepenggal kondisi Rasulullah “Ketika itu beliau terbaring di atas tikar, aku pun duduk. Lalu beliau menurunkan bajunya. Dan beliau tidak memiliki baju selain baju tersebut. Ternyata, tikar tersebut telah membekas pada punggung beliau. Aku melihat lemari beliau, di dalamnya hanya ada segenggam tepung seukuran satu Sha’ (sekitar 2,5 atau 3 kg), sejenis daun untuk menyamak di pojok ruangan, dan selembar kulit yang telah disamak. Maka mengalirlah air mataku.”

Beliau bertanya, “Apa yang membuatmu menangis wahai Umar?” Aku menjawab, “Bagaimana aku tidak menangis wahai Nabi Allah, sedangkan tikar ini telah membekas di punggung anda. Dan lemari ini, aku tidak melihat kecuali apa yang aku lihat.

Padahal raja Romawi dan Persia di sana berada di tengah kebun-kebun buah dan taman-taman mereka. Sementara anda adalah utusan Allah dan pilihan-Nya dan seperti ini (isi) lemari anda.” Beliau pun menjawab, “wahai Umar, tidakkah engkau rela akhirat bagi kita dan bagi mereka?”.

Abdullah bin Mas’ud juga menuturkan di dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dan disahihkan oleh Al Albani bahwa suatu saat Rasulullah pernah tidur di atas tikar. Ketika bangun, tikar tersebut membekas di punggung beliau. Kami berkata, “Wahai Rasulullah, maukah anda untuk kami buatkan kasur untuk anda?” Beliau menjawab, “Apa urusanku dengan dunia, hanyalah permisalanku dengan dunia ini seperti seorang musafir yang berteduh di bawah sebatang pohon, kemudian beranjak pergi meninggalkannya.”

Demikianlah gaya hidup teladan kita, yang Allah sebutkan di dalam firman-Nya :
“Sesungguhnya telah ada pada Rasulullah suri teladan yang baik bagi kalian (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan hari akhirat serta banyak menyebut Allah.” (Al Ahzab : 21).
Lantas, masihkah kita berambisi untuk mengumpulkan sesuatu yang akhirnya akan kita tinggalkan? Tidakkah kita mencontoh suri teladan yang merupakan makhluk terbaik? Marilah kita renungkan hal ini.

Penutup
Pembaca sekalian, kita yang lemah ini mungkin sangat sulit untuk mencontoh gaya hidup Rasullullah, tetapi paling tidak dari uraian di atas cukuplah sebagai motivasi bagi kita untuk tidak larut dalam kehidupan dunia. Kita ambil dunia ini dengan cara yang halal. Dan kita belanjakan pada perkara kebajikan. Orang yang semacam ini niscaya akan mendapatkan kecintaan Allah dan makhluk-Nya. Rasulullah bersabda ketika ditanya oleh seorang mengenai sebuah amalan yang dapat mendatangkan kecintaan Allah dan manusia, belliau menjawab :

“Zuhudlah terhadap dunia niscaya Allah akan mencintaimu dan zuhudlah (merasa tidak butuh) terhadap apa yang dimiliki manusia, maka niscaya mereka akan mencintaimu.” (HR Ibnu Majjah dari sahabat Sahl bin Sa’d as-Sa’idi dan dihasankan oleh Asy-Syaikh Al-Albani)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *