Yazid Bin Muawiyah: Kami Takut Terhadap Jawa

Sejarah Baru Dinasti Tang (618-907) mencatat telah terjalin hubungan antara Jawa dengan Arab tahun 674. Hubungan itu mengarah pada gesekan kepentingan yang mengarah pada terjadinya konflik, sekalipun dalam tingkat yang minimal.

Yazid Bin Muawiyah Khalifah Kedua Bani Umayyah Sebagai Pangeran Arab

Sejarah Baru Dinasti Tang (618-907):

Pada 674 penduduk negeri ini mengangkat seorang wanita bernama Zi-ma menjadi ratu mereka. Pemerintahannya sangat bagus, bahkan barang-barang yang terjatuh di jalan tidak akan ada yang mengambilnya. Mendengar hal ini seorang pangeran bangsa Arab (Da-zi) mengirimkan sebuah tas berisi uang dan meletakkannya di perbatasan negara sang Ratu. Orang-orang yang melewati tas ini selalu menghindarinya. Tas itu tetap ada di sana selama tiga tahun. Suatu ketika, putra mahkota melangkahi emas tersebut. Xi-ma begitu marah dan ingin membunuh sang putra mahkota. Para menterinya menolak keinginan itu dan akhirnya Xi-ma berkata: “Kesalahanmu terletak di kakimu, karena itu sudah memadai jika kakimu di potong.” Continue reading “Yazid Bin Muawiyah: Kami Takut Terhadap Jawa”

Islam, Cinta dan Hari Valentine

Saudaraku, cinta akan membawa sesuatu menjadi lebih baik, membawa kita untuk berbuat lebih sempurna, mengajarkan pada kita betapa besar kekuatan yang dihasilkannya. Cinta mengajarkan pada kita, bagaimana caranya harus berlaku jujur dan berkorban, berjuang dan menerima, memberi dan mempertahankan..

Bisa kita lihat pada bahasan di atas bahwa Valentine’s Day merupakan peringatan “cinta kasih” yang diformalkan untuk mengenang sebuah peristiwa kematian seorang pendeta yang mati dalam sebuah penjara. Yang kemudian diabadikan oleh gereja lewat tangan Paus Gelasius. Maka merupakan sebuah kurang cerdas jika kaum muslim -dan secara khusus kalangan remajanya- ikut-ikut melestarikan budaya yang sama sekali tidak memiliki ikatan historis, emosional, dan religius dengan mereka. Keikutsertaan remaja muslim dalam “huru-hara” ini merupakan refleksi kekalahan mereka dalam sebuah pertarungan mempertahankan identitas dirinya. Continue reading “Islam, Cinta dan Hari Valentine”

Islam, Wayang dan Gapura Syahadat

Wayang kulit adalah salah satu wujud kebudayaan yang telah berkembang di Indonesia. Khususnya pulau Jawa. Sulit untuk mencabut suatu kebudayaan yang telah tertanam dengan begitu kuat kemudian diganti dengan kebudayaan yang bernafaskan Islam. Dalam suatu pertunjukan wayang kulit, biasanya menceritakan suatu lakon yang mengungkapkan suatu permasalahan yang terjadi di dalam masyarakat dan cara penyelesaiannya. Lakon mempunyai maksud dan tujuan cerita yang dimainkan dalam wayang kulit (Poerwandarminta, 1995: 552)

Kata wayang (bahasa Jawa), bervariasi dengan kata bayang, yang berarti bayang-bayang atau bayangan. Wayang waktu itu berarti mempertunjukkan bayangan yang selanjutnya menjadi seni pentas bayang-bayang atau wayang. (Sri Mulyono, 1983. Simbolisme dan Mistisisme dalam Wayang. Jakarata: Gunung Agung,hal. 51). Continue reading “Islam, Wayang dan Gapura Syahadat”