Berkaca Dengan Sang Teladan. Sayyidina Muhammad SAW

Cobalah kita sedikit menengok bagaimana keadaan gaya hidup Rasulullah, pemimpin seluruh anak Adam. Beliau lah orang yang yang paling mengerti hakekat dunia dan akhirat, beliau pula orang yang paling mengerti kadar masing-masing, cara menghargainya,, dan bagaimana menyikapinya.

Dikisahkan oleh Umar bin Khattab dalam hadits yang diriwayatkan oleh Al Bukhari dan Muslim, Umar menceritakan sepenggal kondisi Rasulullah “Ketika itu beliau terbaring di atas tikar, aku pun duduk. Lalu beliau menurunkan bajunya. Dan beliau tidak memiliki baju selain baju tersebut. Ternyata, tikar tersebut telah membekas pada punggung beliau. Aku melihat lemari beliau, di dalamnya hanya ada segenggam tepung seukuran satu Sha’ (sekitar 2,5 atau 3 kg), sejenis daun untuk menyamak di pojok ruangan, dan selembar kulit yang telah disamak. Maka mengalirlah air mataku.” Continue reading “Berkaca Dengan Sang Teladan. Sayyidina Muhammad SAW”

Macam-Macam Tipe Manusia Terkait Kesabaran

Menurut Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah -Rahimahullah- manusia terbagi dalam beberapa tipe saat menghadapi kehidupan dikaitkan dengan kesabaran, yaitu;
1. Ahli Sabar dan Taqwa, mereka adalah orang-orang yang diberi karunia nikmat oleh Allah dari orang-orang yang bahagia di dunia dan akhirat.

Contoh pribadi yang semacam ini adalah Nabi Ayyub AS beliau awalnya adalah seorang yang kaya raya memiliki harta yang banyak. Beliau adalah seorang yang sangat dermawan, setiap hari beliau berkeliling kampung untuk mencari orang yang membutuhkan santunannya. Continue reading “Macam-Macam Tipe Manusia Terkait Kesabaran”

Membangun Masyarakat Berdasarkan Tatanan Rabbaniyah (2)

Konsep kekusaaan itu merembet pada doktrin ekonomi. Karena segala sesuatu adalah milik Allah, maka Allah adalah sumber rezeki dari siapa manusia bisa memperolehnya secara langsung dengan bekerja atau berusaha. Dalam sistem kerajaan, anggota masyarakat mengabdi kepada raja, dan dalam sistem etatis, warga masyarakat mengabdi kepada negara. Al Quran menentang konsep ini.
Pada ayat 212 surat Al Baqarah dinyatakan juga bahwa di lain pihak Allah memberikan rezeki kepada siapa saja yang Ia kehendaki (menurut hasil usahanya) dan di lain pihak ditegaskan bahwa Allah itu memberi rezeki tanpa hitungan, alias tidak terbatas.

Dalam surat Al Hijr : 20 dinyatakan juga bahwa “bumi merupakan arena untuk menciptakan mata kehidupan”, dalam bentuk mana Allah memberikan rezeki kepada manusia. Tetapi dalam mencari rezeki itu, manusia perlu membuat aturan yang dapat disepakati bersama sehingga manusia tidak perlu memperoleh kekayaan dengan cara yang tidak sah atau tidak benar (QS An Nisa : 49). Continue reading “Membangun Masyarakat Berdasarkan Tatanan Rabbaniyah (2)”

Raih Surga Dengan Harta

“Harta kekayaan itu hijau dan manis. Dia yang mendapatkan dan mengelolanya dengan kemuliaan jiwa niscaya akan diberkahi. Sementara dia yang mendapatkan dan mengelolanya dengan ketamakan jiwa niscaya akan dijauhkan dari keberkahan” -Sabda Rasulullah saw; HR. al-Bukhari & Muslim-

Di lingkungan masyarakat kita banyak ditemukan anggapan keliru tentang harta kekayaan dan uang. Sebagian ada yang kebablasan hingga menilai uang ataupun kekayaan adalah segala-galanya. Ia dijadikan sebagai tujuan utama. Bahkan dikejar dengan menghalalkan segala cara. Sebaliknya, ada juga yang berpandangan sangat minor tentang uang dan harta kekayaan. Ia dianggap identik dengan sesuatu yang menyesatkan, menjerumuskan orang ke dalam dosa, merupakan sumber masalah atau konflik, dan hal-hal buruk lainnya. Continue reading “Raih Surga Dengan Harta”

kasus Kekerasan dalam Rumah Tangga (KDRT) Dalam Pandangan Islam

“Dan pergaulilah mereka (para isteri) secara makruf”
-Alquran QS. An-Nisa’, 4: 19-

Hingga saat ini kasus Kekerasan dalam Rumah Tangga (KDRT) masih merupakan fenomena sosial yang meresahkan. Ironisnya, tak jarang kasus-kasus KDRT yang umumnya menempatkan perempuan (isteri) dan anak-anak sebagai pihak yang rentan menjadi korban justru dilindungi oleh struktur budaya patriarkhi yang cenderung membiarkan hal itu terjadi tanpa koreksi. Bagaimana Islam menyikapi fenomena tersebut?

Asas Makruf

Dalam pandangan Islam, selain sebagai sarana yang halal untuk penyaluran hasrat seks dan harapan mempunyai keturunan yang baik (hifdz al-‘ird wa al-nasl), perkawinan lebih utamanya ditujukan juga untuk menemukan makna sakinah (ketenangan hati) dan mawaddah wa rahmah (cinta dan kasih sayang) dalam bingkai kehidupan rumah tangga yang harmonis dan lestari [QS. ar-Rum, 30: 21].

Continue reading “kasus Kekerasan dalam Rumah Tangga (KDRT) Dalam Pandangan Islam”

Asam Urat, Penyakit Yang Didominasi Kaum Pria

Menurut penelitian, sekitar 90% penderita penyakit Asam Urat adalah laki-laki. Hal ini karena kaum perempuan memiliki hormon esterogen yang membantu pembuangan asam urat melalui urin.

Asam urat atau gout merupakan penyakit yang ditimbulkan akibat tingginya kadar asam urat dalam darah. Pada kaum pria, kadar asam urat dikatakan normal jika berkisar 3,5-7 mg/dL. Sementara untuk kaum wanita kadar asam urat dikatakan normal berkisar 2,6 – 6 mg/dL. Bila dalam pemeriksaan awal kadar asam urat dicatat mencapai di atas 7 mg/dL maka dapat dikatakan ia menderita Asam Urat. Continue reading “Asam Urat, Penyakit Yang Didominasi Kaum Pria”

Hubungan Baik Dengan Masyarakat Bag. 2

  1. Mengabulkan Undangan

Undang mengundang sudah menjadi tradisi dalam pergaulan bermasyarakat. Yang mengundang akan kecewa bila undangannya tidak dikabulkan, dan akan lebih kecewa lagi bila yang berhalangan hadir tidak memberi kabar apa-apa. Oleh sebab itu seorang muslim sangat dianjurkan memenuhi berbagai undangan yang diterimanya (menghadiri pengajian, rapat, aqiqahan, dan lain sebagainya) selama tidak ada halangan, dan acara-acara tersebut tidak bertentangan dengan syariat Islam.

Khusus untuk undangan walimahan (resepsi perkawinan) seorang muslim wajib menghadirinya. Rasulullah bersabda;

“Apabila seseorang di antara kamu diundang menghadiri walimahan, maka hendaklah dia menghadirinya” (H. Muttafaqun ‘Alaih) Continue reading “Hubungan Baik Dengan Masyarakat Bag. 2”

Hubungan Baik Dengan Masyarakat Bag. 1

“Kewajiban seorang muslim atas muslim lainnya ada lima: Menjawab salam, mengunjungi orang sakit, mengiringkan jenazah, memenuhi undangan, dan menjawab orang bersin”

(HR Khamsah)

Selain dengan tamu dan tetangga, seorang muslim harus dapat berhubungan baik dengan masyarakat yang lebih luas, baik di lingkungan pendidikan, kerja, sosial dan lingkungan lainnya. Baik dengan orang-orang yang seagama, maupun dengan pemeluk agama lainnya.

Hubungan baik dengan masyarakat diperlukan karena tidak ada seorangpun yang dapat hidup tanpa bantuan masyarakat. Lagi pula hidup bermasyarakat sudah merupakan fitrah manusia. Dalam surat Al Hujurat ayat 13 dinyatakan bahwa manusia diciptakan dari lelaki dan perempuan, bersuku-suku dan berbangsa-bangsa agar mereka saling kenal mengenal. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa, menurut Al Quran, manusia secara fitrah adalah makhluk sosial dan hidup bermasyarakat merupakan suatu keniscayaan bagi mereka. Continue reading “Hubungan Baik Dengan Masyarakat Bag. 1”

Orang Tua dan Peran Penting dalam Keluarga

Dalam pertunjukan wayang, dalang mempunyai peranan paling utama sehingga mereka harus menguasai teknik perkeliran (pertunjukan wayang kulit) dengan baik di bidang seni sastra, seni karuwitan, seni menggerakkan boneka-boneka wayang kulitnya, maupun penjiwaan karakter wayang serta harus terampil dalam membawakan lakon-lakon

Dalang sebagai juru dakwah harus mampu melaksanakan tugasnya dalam memberi penerangan agama. Untuk melaksanakan tujuan dakwah melalui pewayangan dan agar mudah diterima oleh masyarakat, maka para muballigh menggunakan simbol atau filsafat.

Sehingga dalang adalah unsur yang penting dalam sebuah pertunjukan wayang. Jika tidak ada dalang maka tidak akan ada pertunjukan wayang. Continue reading “Orang Tua dan Peran Penting dalam Keluarga”