Wanita Dalam Dunia Politik

Dalam sejarah Islam, beberapa shahabiyah pada zaman Rasulullah kiranya dapat menjadi acuan untuk menempatkan wanita dalam berpolitik. Misalnya Nusaibah dicatat terlibat dalam dua kali Bai’ah. Syifa menjadi kepala pasar pada masa Khalifah Umar. Ummu Salamah memberikan saran pada Rasulullah pada perjanjian Hudaibiyah. Ini menandakan peran wanita dalam politik Islam mendapat tempat.

Tidak Hanya Sebatas Keterwakilan
Selama ini, banyak pandangan yang menempatkan kurangnya jumlah perempuan dalam partai politik, dapat memarjinalisasikan aspirasi perempuan di masyarakat luas. Pada akhirnya mereka akan tidak diprioritaskan dalam partai politik tersebut. Pandangan ini kiranya harus disingkirkan. Pandangan hitam putih ini menyebabkan adanya ketidakharmonisan dalam bernegara.

Perlu ada jalan keluar bersama yang tidak menempatkan wanita sebagai pihak yang terkalahkan. Hal ini karena peran politik bukan untuk saling mengalahkan tapi membangun negara bersama. Pandangan hitam putih yang dikembangkan tersebut, menunjukkan belum adanya kesadaran dalam bernegara.

Sekalipun pemenuhan kuoata sebagaimana yang disaratkan dalam UU adalah penting, namun sudahkan menjadi pertimbangan juga peran mereka kemudian ketika duduk di parlemen. Peran sebagai pertimbangan berarti membahas kapabilitasnya dalam berpolitik. Selama ini dari jumlah wanita yang duduk dalam parlemen, ternyata kurang banyak dari mereka yang bersuara nyaring. Mereka kebanyakan lebih banyak diam dan kurang menonjol. Hal ini kiranya perlu menjadi perhatian bersama.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *