Wayang dan Kehati-hatian Para Wali

Inilah yang dilakukan oleh para wali. Ketika wayang merupakan salah satu sarana yang efektif untuk memasukkan nilai-nilai islam pada masyarakat. Maka, mereka berfikir keras untuk menjadikan wayang sarana yang bisa digunakan untuk memasukkan nilai-nilai keislaman tetapi tidak melanggar syariat islam yang mereka pelajari.

Bukti kehati-hatian mereka adalah ditunjukkan dari awal melihat bentuk wayang-wayang yang sudah menyebar pada zaman itu. Para wali membuat beberapa penyesuaian dari bentuk dan model wayang yang sudah ada zaman itu. Langkah yang dilakukan oleh para wali adalah dengan merubah penampilan wayang. Dari wayang yang awalnya berbentuk menyerupai manusia menjadi wayang yang wajahnya miring,lehernya panjang, lengannya panjang, kakinya pendek dan bahannya terbuat dari kulit kerbau.

Kenapa para wali sangat peka terhadap fisik wayang? Sampai mereka harus merubah bentuknya. Inilah bukti kedalaman ilmunya para wali. Mereka memahami hadits nabi yang mengatakan : “Sesungguhnya manusia yang paling keras siksaannya di hari kiamat ialah para pelukis(penggambar)” (HR. Bukhari). Kehati-hatian yang para wali mesti lakukan ketika memahami hadits ini. karena apabila mereka tetap menggunakan wayang dengan versi yang lama yakni menyerupai manusia. Maka dapat dikategorikan seperti patung. Sebagian ulama berpendapat, membuat patung adalah termasuk dosa besar. Dan kelak di akhirat akan diminta oleh Allah Subhanahuwata’ala kepada pembuat patung “ hidupkanlah apa yang kalian ciptakan” (lengkapnya dihadits bukhari).

Disinilah, ilmu berkeluarga bisa kita dapati. Disaat kita mencoba memulai sebuah tips dan trik pengasuhan maka perhatikan dari awal secara teliti apakah tips dan trik itu tidak mengandung dosa besar?. Kehati-hatian lah yang menjadi modal awal agar kelanjutannya justru bermanfaat bagi keluarga muslim.

Disinilah ilmu mendidik anak kita temukan. Disaat kita memberikan kegiatan dan aktifitas yang melibatkan lokasi dan media pada anak-anak maka perhatikan dari awal secara teliti apakah mengandung dosa besar aktifitas itu? Kehati-hatian menjadi modal awal agar kelanjutannya justru bermanfaat bagi keluarga muslim.

Disinilah ilmu suami istri bisa kita dapati. Disaat kita mencoba mempelajari komunikasi antar suami istri dari buku-buku komunikasi pasangan suami istri. Perhatikan dari awal apakah komunikasi yang diajarkan justru menjerumuskan kita pada dosa besar? Kehati-hatian lah yang menjadi modal awal agar kelanjutannya justru bermanfaat bagi keluarga muslim.

Kehati-hatian para wali menggunakan media wayang untuk dakwahnya sampai memperhatikan bentuknya, dikarenakan mereka takut akan dosa besar. Keluarga muslim pun perlu kehati-hatian pada ilmu berkeluarga. Agar tidak terjebak pada dosa-dosa besar.

Dimanakah ilmu berkeluarga yang tidak terjebak pada dosa besar? Tunggu, tulisan wayang parenting berikutnya…!!!

Walahu’alam

Waalid Ilham

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *