Penyiar Santun Sebarkan Islam di Israel

Dalam sebuah langkah yang tidak pernah terbayangkan, sekelompok kecil Muslim itu nekat menyeberang tembok-tembok budaya, keimanan dan politik yang sukar ditembus. Tujuannya, menyebarkan ajaran Islam ditengah komunitas Yahudi di Israel. Mereka berharap ikhtiarnya dapat merangkul kaum Yahudi memeluk agama Islam.

Sekelompok da’i berjenggot tampak mendekati sebuah kawasan kota tua di Yerusalem, mereka mencoba berbicara dengan bahasa Ibrani dengan lemah lembut untuk mengajak orang-orang mengenal lebih dalam tentang intisari ajaran Islam.

“Saya harus memberitahukan pada Anda tentang iman yang benar,” kata salah seorang da’i di sekitar pertokoan di luar Yerusalem. Dia memikul sebuah tas ransel besar yang berisi buku dan selebaran tentang ajaran Islam dalam beberapa bahasa, termasuk bahasa Ibrani.” Anda boleh merespon upaya kami dengan cara apapun. Akan tetapi, memberikan kabar kebenaran seperti ini adalah kewajiban dalam agamaku.”

Meski Kebanyakan orang yang lalu lalang itu mengacuhkannya, dan tetap tidak mengenggap keberadaannya. Namun dia bukanlah seorang Muslim yang bodoh, dia jebolan fakultas komputer di sebuah perguruan tinggi di Israel, dia memanjangkan jenggotnya dan memendekkan celananya di atas lutut. Tampak dari luar dia adalah seorang Muslim dari kalangan Jamaah Tabligh. Salah seorang diantaranya mengaku bernama Abu Hasan.

Diakuinya, upaya seperti ini tidak banyak membuahkan catatan sukses. Karena ikhtiar besar seperti ini hanya dilakukan oleh sekitar 13 orang. Sebagian besar dari mereka yang memeluk agama Islam adalah perempuan Yahudi yang dinikahi Muslim, ketimbang melalui da’wah secara verbal. Namun fenomena dakwah dengan menggunakan medium bahasa Ibrani menunjukkan; ada kepercayaan diri warga Muslim Arab di Israel.

Fenomena ini sekaligus menunjukkan adanya kekuatan Islam konservatif yang mulai tersebar melalui forum-forum di sejumlah situs dan chanel televisi satelit di penjuru Eropa, Asia dan Timteng.

Abu Hasan menyatakan, dalam beberapa tahun terakhir saat situasi konflik dengan Israel, banyak Muslim yang marah dansayangnya, mereka justru melupakan tanggung jawabnya yang lebih besar, yaitu menyebarkan agamanya kepada mereka non-Muslim, termasuk berdakwah kepada penganut Yahudi.

“Muslim seolah sudah tidak ingin bicara, dan Yahudi tidak ingin mendengarkan. Namun penganut Yahudi juga butuh untuk mendengarkan dan mengetahui tentang ayat-ayat kebenaran,” katanya.

Yitzhak Reiter, salah seorang profesor dari the Jerusalem Center for Israel Studies, menyatakan dirinya tidak pernah mendengar adanya fenomena seperti ini sejak 30 tahun lalu, sekarang ada yang ingin belajar tentang Islam lokal. “Ini adalah fenomena baru, ada upaya islamisasi terhadap penganut Yahudi di negara Israel,” katanya.

Penyebaran ini tidak terlalu mendapatkan perhatian dari masyarakat. Namun pada juru da’i itu mulai mendobrak tabu-tabu. Beberapa abad sudah kaum Yahudi yang berjumlah sekitar 13 juta di seluruh dunia, mengalami kenyataan adanya upaya Kristenisasi dan Islamisasi.

Mereka sangat tidak suka dengan nada-nada berbau dakwah atau missionaris. Hukum di Israel juga membatasi Kristenisasi dan Islamisasi. Mereka melarang aktifitas yang menawarkan bantuan keuangan kepada penganut Yahudi untuk menyebarkan agama lainnya. Namun regulasi itu tidak sepenuhnya efektif.

Kota suci tiga agama, dihuni oleh mereka yang menyakini agamanya masing-masing dengan kuat, mereka juga sudah dikenal kuat dalam menjaga solidaritas kesukuan. Sehingga upaya Kristenisasi dan Islamisasi tidak mudah dilakukan.

Azzam Khatib, salah seorang pejabat Muslim di Yerusalem menyatakan, penyebaran agama dengan menggunakan bahasa Ibrani bukanlah gerakan dakwah yang dilakukan Muslim mainstream, akan tetapi langkah ini masih bisa diterima. “Siapapun yang ingin memeluk agama ini, mereka akan disambut—akan tetapi harus tanpa paksaan,” katanya.

Empat tahun yang lalu, kata Abu Hasan, seorang Yahudi menghampirinya dan menanyakan beberapa pertanyaan tentang Islam, setelah dia gigih menyebarkan buku-buku kecil tentang Islam kepada para turis di sekitar Yerusalem.

Menghindari tema konflik

Abu Hasan menyadari, hampir tidak ada literatur Muslim berbahasa Ibrani. Dengan demikian, dia patut bangga karena langkah dakwah yang ditempuhnya adalah satu-satunya literatur modern berbahasa Ibrani. Sejak saat itulah dia rajin menyebarkan boklet tentang Islam.

Bukunya yang berjudul “Langkah menuju kebahagiaan,” itu mengajak pembaca untuk berpikir dan meraih kesempatan untuk menggapai jalan yang terang benderang.

Namun orang seperti dia patut khawatir, jika harus menunjukkan identitasnya. Karena dia dapat saja mendapat sasarang kekerasan. Abu Hasan mengaku, pernah menerima pesan suara yang mengancam dirinya. Abu Hasan mengakui, tidak semua orang suka jalan dakwahnya; kebanyakan orang acuh, bahkan tidak sedikit yang mengumpatnya.

Suatu ketika, dia juga pernah dicecar pertanyaan oleh agen intelijen Israel dan menanyakan dari mana dia mendapatkan dana, dia hanya bisa menjawab, dana dikumpulkan dari masjidnya, “Orang-orang mencemoohku. Tetapi saya melaksanakan kewajibanku, dan inilah kewajibanku sebagai seorang Muslim. Saya harus menjelaskan iman ini dengan cara yang baik dan lembut tentang Allah,” katanya dikutip Associated Press.

Dia berupaya untuk menghindari pertanyaan seputar konflik Palestina dan Israel, tengoklah sejarah dimana Yahudi hidup damai di bawah kekuasaan Islam. Jika ingin damai, Yahudi seharusnya menerima Islam.

Abu Hasan dan teman-temannya secara tidak langsung terhubung dengan Mercy Committee for New Muslims yang didirikan oleh Emad Younis, seorang da’i bermata biru dari kota Ara, Israel utara.

Younis menyatakan, organisasinya tidak hanya ingin mengajak orang-orang memeluk Islam. Mereka juga membantu muallaf untuk bisa menyesuaikan diri untuk hidup secara Islami dan mengajak mereka menjelaskan sisi Islam yang moderat kepada komunitas non-Muslim.

Angka muallaf masih sedikit.

Kementerian Hukum Israel mengaku tidak mengetahui berapa banyak orang Yahudi yang sudah memeluk Islam, namun dia memperkirakan ada sekitar 400 hingga 500 penganut Yahudi yang memeluk agama lain setiap tahunnya, kebanyakan mereka pidah ke agama Kristen.

Reiter memperkirakan ada sekitar 20 orang Yahudi yang memeluk Islam setiap tahunnya, kebanyakan mereka pindah agama dengan cara menikah dengan laki-laki Muslim.

Younis membenarkan kebanyakan Yahudi yang masuk Islam melalui cara menikah, dan kebanyakan diantara mereka adalah perempuan Yahudi dari negara bekas Uni Sovyet.

Salah seorang perempuan muallaf berumur 20 tahun terkesan dengan Islam, “Muslim menyambutku dengan cinta yang tidak pernah saya dapatkan dari orang tuaku,” dan dia disambut sebagai bagian dari komunitas mereka. Kini, dia mempunyai nama baru Yasmin. “Saya sekarang tidak punya apapun kecuali, seorang suami Muslim yang setia padaku,” pungkasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *