Membangun Masyarakat Berdasarkan Tatanan Rabbaniyah (1)

“Wahai manusia mengabdilah (hanya) kepada Allah yang telah menciptakan kamu dan generasi sebelum kamu, agar kamu dapat menjaga diri dari kejahatan dan menetapi apa yang menjadi kewajiban (taqwa). Tuhan yang membuat bumi sebagai tempat peristirahatan bagi kamu dan membuat langit sebagai bangunan, dan menurunkan hujan dari awan,, lalu dengan itu mengeluarkan buah-buahan sebagai rezeki untuk kamu. Karena itu, janganlah engkau membuat tandingan Allah, padahal engkau mengetahui.”
(QS Al Baqarah : 21-22)

Gagasan pokok yang paling inti dan paling mendasar dari Al Quran, sekurang-kurangnya ditinjau dari segi sosial adalah bahwa manusia dan masyarakat harus melepaskan diri dari menuhankan tuhan-tuhan selain Allah, oleh karena sebagaimana dikatakan dalam surat Al Baqarah : 163-164, “Tuhan kamu adalah Tuhan Yang Maha Esa, tidak ada Tuhan selain Dia, (yaitu) yang Rahman dan Rahim. Seluruh kejadian langit dan bumi, sejak dari pergantian siang dan malam, kapal-kapal yang bisa berlayar di lautan, hingga kisaran angin dan awan yang didayagunakan di antara langit dan bumi, semuanya merupakan data dan tanda bukti bagi orang-orang yang berpikir.”

Namun, seperti dijelaskan dalam ayat berikutnya, “manusia ada yang mengambil alternatif lain untuk disembah, selain Allah. dan mereka itu mencintai sesuatu seperti seharusnya mereka mencintai Allah.” Bahkan, “mereka itu mengangkat pemimpin-pemimpin rohani dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan-tuhan yang berkuasa (rabb), selain Allah.” (QS At Tawbah : 31), Padahal, “para pemimpin rohani dan pendeta-pendeta itu memakan harta manusia dengan cara yang tidak sah (bathil) dan menghalang-halangi manusia dari jalan Allah.” (QS At Tawbah : 34).

Raja Fir’aun, karena memiliki kekuasaan absolut itu, pernah menganggap dirinya sebagai tuhan, “Aku lah tuhanmu (rabb) yang npaling tinggi” (Qs Al Nazi’at : 24). Ketika Nabi Ibrahim mengatakan bahwa “Rabb-ku (Tuhanku) adalah yang memberikan kehidupan dan kematian,” maka raja Babylon, Namrud, mengatakan “Aku pun dapat menghidupkan dan mematikan” (QS Al Baqarah : 258). Karena itu, maka dalam ayat yang pertama kali turun, yaitu surat Al ‘Alaq : 1, Allah menurunkan wahyu : “Bacalah bahwa Rabbmu yang menciptakan segala sesuatu” Pernyataan bahwa Rabb itu hanya Allah, maka ini berarti meniadakan tuhan-tuhan yang lain, termasuk meniadakan dan mendelegitimasikan pernyataan sang tiran Fir’aun yang pernah mengatakan di hadapan para pemuka masyarakat (mala): “Aku tidak tahu tuhan yang lain bagi kamu selain aku”, yang bisa berkata begitu karena sadar akan kekuasaan absolutnya. Dari kasus Fir’aun, kita bisa menarik kesimpulan, bahwa manusia bisa mengangkat dirinya sebagai penguasa yang kekuasaannya menyerupai Tuhan, karena merasa dirinya sebagai Rabb-u ‘l-Balad (penguasa negeri).
Demikian pula para pemimpin rohani yang bernama pendeta, rahib atau ulama, bisa diangkat dan dianggap sebagai tuhan-tuhan yang arti konkretnya adalah memegang kekuasaan ketuhanan atau mewakili Tuhan, walaupun mereka sebenarnya adalah orang-orang korup. Dari situlah berkembang sistem ruhbaniyah, yang dewasa ini dikenal sebagai teokrasi, atau pemerintahan pemimpin rohani. Baik sistem otoriter atau teokrasi, dalam pandangan Al Quran adalah thaghut, yaitu sistem kepemimpinan atau kekuasaan yang membawa pada kesesatan. “Mengabdilah (hanya) kepada Allah dan tinggalkanlah thaghut” (QS An Nahl : 36). Di sini pengakuan sebagai Rabb, merupakan pembebasan dari segala sistem thaghut yang bisa berbentuk apa saja yang dipuja dan ditaati sebagaimana memuja dan mentaati Allah.
Doktrin pembebasan itu berlaku secara konsisten dalam sistem kekuasaan. Suku-suku bangsa Arab di zaman Nabi SAW memang tidak mengenal sistem kerajaan, yang dikenal sebagai sistem kekuasaan asing yang pernah dicoba ditegakkan di Makkah, tetapi digagalkan oleh warganya. Nilai yang dibawa oleh Al Quran bersifat meniadakan lembaga raja dan kerajaan. Sebagai ganti dari konsep raja, maka Al Quran membawa konsep Rabb, yaitu Allah, sebagai raja manusia, seperti dinyatakan dalam surat An Nas : 3, suatu surat penutup dalam Al Quran yang bertema manusia :
1) Katakanlah Aku berlindung kepada Rabb-nya manusia. 2) Raja manusia 3) Sesembahannya manusia.
Apa yang disebut “kerajaan” yang melambangkan kekuasaan tertinggi, hanyalah kerajaan yang kepunyaan Dia. Ia yang memberi kehidupan dan menyebabkan kematian. Dan Ia yang berkuasa atas segala sesuatu (QS Al Hadid : 2). Pertama-tama, doktrin ini meniadakan dan menegasi kekuasaan tiran dan raja yang kerap kali menganggap bahwa tanah, umpamanya adalah milik raja. Doktrin ini juga menegasi konsep plutokrasi yang menjadikan kekayaan seseorang sebagai dasar kekuasaaan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *