Islam, Wayang dan Gapura Syahadat

Wayang kulit adalah salah satu wujud kebudayaan yang telah berkembang di Indonesia. Khususnya pulau Jawa. Sulit untuk mencabut suatu kebudayaan yang telah tertanam dengan begitu kuat kemudian diganti dengan kebudayaan yang bernafaskan Islam. Dalam suatu pertunjukan wayang kulit, biasanya menceritakan suatu lakon yang mengungkapkan suatu permasalahan yang terjadi di dalam masyarakat dan cara penyelesaiannya. Lakon mempunyai maksud dan tujuan cerita yang dimainkan dalam wayang kulit (Poerwandarminta, 1995: 552)

Kata wayang (bahasa Jawa), bervariasi dengan kata bayang, yang berarti bayang-bayang atau bayangan. Wayang waktu itu berarti mempertunjukkan bayangan yang selanjutnya menjadi seni pentas bayang-bayang atau wayang. (Sri Mulyono, 1983. Simbolisme dan Mistisisme dalam Wayang. Jakarata: Gunung Agung,hal. 51).

Pada periode penyebaran agama Islam di Jawa, para muballigh (wali songo) dalam menjalankan dakwah Islam telah memakai alat berupa wayang kulit. Salah seorang wali songo yang piawai memainkan wayang kulit sebagai media penyebaran Islam adalah Sunan Kalijaga. Mengingat cerita itu sarat dengan unsur Hindu-Budha, maka Sunan Kalijaga berusaha memasukkan unsur-unsur Islam dalam pewayangan. Ajaran-ajaran dan jiwa keIslaman itu dimasukkan sedikit demi sedikit. Bahkan lakon atau kisah dalam pewayangan tetap mengambil cerita Pandawa dan Kurawa yang mengandung ajaran kebaikan dan keburukan.

Hingga saat ini budaya Wayang kulit menjadi kebudayaan yang terlestarikan di pulau Jawa.

Di Demak, misalnya. Menurut adat kebiasaan, setiap tahun diadakan perayaan Maulid Nabi di serambi Masjid yang diramaikan dengan rebana (terbangan), gamelan dan pertunjukan wayang kulit. Untuk menarik rakyat, di serambi dihiasi beraneka ragam hiasan bunga-bungaan yang indah.

Untuk mengumpulkan masyarakat di sekitar, pertama-tama ditabuhlah gong bertalu-talu yang suaranya kedengaran dimana-mana.

Kebiasaan masyarakat Jawa pada masa itu apabila mendengar bunyi-bunyian, mereka pun berdatangan. Mereka masuk melalui gapura yang dijaga para wali. Kepada mereka dikatakan bahwa siapa saja yang mau lewat gapura dosanya akan diampuni sebab dia telah masuk Islam. Dengan catatan bahwa orang yang memasuki gapura harus membaca syahadat. Setelah mengambil air wudhu di sebelah kiri kolam, mereka dibolehkan masuk masjid untuk mendengarkan cerita-cerita wayang gubahan para wali yang bernafaskan nilai-nilai keIslaman. Bila waktu shalat tiba, mereka diajak shalat dipimpin oleh wali.

Subhanallah, inilah budaya negeri kita. Keinginan masyarakat mendengarkan wayang. Dari keinginan masyarakat tersbebut dimasukkan oleh para wali saat itu untuk penanaman tauhid. Di saat masyarakat memasuki gapura masjid, saat itu pula masyarakat bersyahadat. Seketika itulah nilai-nilai keislaman disampaikan melalui penampilan wayang yang isinya sudah digubah oleh para wali. Bahkan saat waktu sholat tiba, mereka pun diajak untuk mengikuti aktifitas sholat. Sepanjang itulah ibadah-ibadah agama islam bisa dipelajari oleh masyarakat pulau jawa.

Penanaman tauhid adalah konsep awal agama islam. Penanaman tauhid adalah pintu masuk awal manusia untuk menjalankan syariat agama islam. Seperti halnya bayi baru lahir, maka kebiasaan yang dilakukan keluarga muslim adalah mengadzankan dikedua telinga bayi.

Abu Rafi meriwayatkan : Aku melihat Rasulullah Shalallahu alaihi wa sallam mengadzani telinga Al-Hasan ketika dilahirkan oleh Fatimah. (HR. Abu Daud, At-Tirmizy dan Al-Hakim)

Di dalam adzan ada dua kalimat syahadat. Dan itu adalah kalimat tauhid. yang harus diperdengarkan dan diucapkan oleh orang yang hendak beragama islam. Begitupula pada anak-anak, “ketahuilah bahwa semua yang kami jelaskan tentang aqidah itu harus dihadirkan untuk anak-anak di awal pertumbuhannya untuk dihapal, selanjutnya terbuka sedikit demi sedikit di usia besarnya”. ( Imam Al Ghazali)

Pelajaran yang menarik dari sebuah gapura dalam pertunjukan wayang yang dilakukan oleh para wali di zaman itu. Kalimat tauhidlah pelajaran pertama yang dimasukkan saat memulai pementasan. Masjid sebagai lokasi berkumpulnya masyarakat untuk mendengarkan wayang. Siapakah yang akan menyempurnakan ilmu islam yang telah masuk di jalur pewayangan ini?

Wallahu’alam…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *