Hubungan Baik Dengan Masyarakat Bag. 2

  1. Mengabulkan Undangan

Undang mengundang sudah menjadi tradisi dalam pergaulan bermasyarakat. Yang mengundang akan kecewa bila undangannya tidak dikabulkan, dan akan lebih kecewa lagi bila yang berhalangan hadir tidak memberi kabar apa-apa. Oleh sebab itu seorang muslim sangat dianjurkan memenuhi berbagai undangan yang diterimanya (menghadiri pengajian, rapat, aqiqahan, dan lain sebagainya) selama tidak ada halangan, dan acara-acara tersebut tidak bertentangan dengan syariat Islam.

Khusus untuk undangan walimahan (resepsi perkawinan) seorang muslim wajib menghadirinya. Rasulullah bersabda;

“Apabila seseorang di antara kamu diundang menghadiri walimahan, maka hendaklah dia menghadirinya” (H. Muttafaqun ‘Alaih)

Kewajiban menghadiri walimahan dapat dipahami, karena pada umumnya walimahan hanya terjadi sekali dalam perjalanan hidup seseorang. Alangkah kecewanya dia, apabila sahabat, saudaranya dan kenalannya tidak menghadiri undangannya tanpa suatu alasan yang dapat diterima. Oleh sebab itu apabila kita berhalangan menghadirinya, sebaiknya kita memberi tahu terlebih dahulu atau belakangan diiringi permohonan maaf.

  1. Menyahuti Orang Bersin

Orang yang bersin disunatkan membaca Alhamdulillah, bersyukur kepada Allah karena biasanya bersin pertanda badan ringan dari penyakit. bagi yang mendengar (orang bersin mengucapkan Alhamdulillah), diwajibkan menyahutinya dengan membaca yarhamukallah (mendoakan semoga Allah mengasihinya). Orang yang tadi bersin menjawab pula, yahdikumullah wa yushlih balakum (semoga Allah menunjuki dan memperbaiki keadaanmu). Dalam hal ini Rasulullah SAW bersabda:

“Jika salah seorang di antaramu bersin hendaklah dia membaca Alhamdulillah. Hendaklah saudara atau temannya (yang mendengar) mengucapkan kepadanya, yarhamukallah. Jika dia ucapkan padanya yarhamukallah hendaklah dia mengucapkan yahdikumullah wa yushlih balakum” (HR Bukhari).

Jika yang bersin tidak mengucapkan Alhamdulillah, kita tidak boleh menyahutinya. Rasulullah bersabda :

“Jika salah seorang di antara kamu bersin dan mengucapkan Alhamdulillah, maka sahutilah. Jika tidak membaca Alhamdulillah, jangan sahuti.” (HR Muslim).

Ajaran Islam tentang bersin di samping mempunyai nilai ibadah, juga sangat besar artinya dalam memperkuat tali ikatan sesama anggota masyarakat, karena masing-masing saling memperhatikan dan mendoakan. Kalau dalam hal-hal yang dianggap kecil saja seperti bersin, kita saling memperhatikan dan mendoakan tentu dalam hal-hal yang lebih besar sifat saling memperhatikan dan mendoakan itu akan lebih meningkat lagi.

Toleransi Agama

Di atas sudah dijelaskan bahwa Islam tidak hanya menyuruh kita membina hubungan baik dengan non muslim. Namun demikian dalam hal-hal tertentu ada pembatasan hubungan dengan non muslim, terutama yang menyangkut aspek ritual keagamaan. Misalnya kita tidak boleh mengikuti upacara-upacara keagamaan yang mereka adakan sekalipun kita diundang, kita tidak boleh menyelenggarakan jenazah mereka secara Islam, kita tidak boleh mendoakan jenazah untuk mendapatkan rahmat dan berkah dari Allah SWT (kecuali mendoakannya supaya mendapatkan hidayah) dan lain sebagainya. Sehingga dalam bertegur sapa misalnya, untuk non muslim kita tidak mengucapkan salam Islam, tapi menggantinya dengan ucapan-ucapan lain sesuai kebiasaan.

Dalam berhubungan dengan masyarakat non muslim, Islam mengajarkan kepada kita untuk toleransi, yaitu menghormati keyakinan umat lain tanpa berusaha mamaksakan keyakinan kita kepada mereka (QS Al Baqarah : 256). Kalau berdialog dengan mereka, kita berdialog dengan cara yang terbaik (QS Al Ankabut : 46). Tidak boleh menghina agama atau keyakinan mereka, apalagi mencela Tuhan mereka.

Toleransi tidaklah berarti mengakui kebenaran agama mereka, tapi mengakui keberadaan agama mereka dalam realitas bermasyarakat. Toleransi juga bukan berarti kompromi atau bersifat sinkretisme dalam keyakinan dan ibadah. Kita sama sekali tidak boleh mengikuti agama dan ibadah mereka dengan alasan apapun. Sikap kita dalam hal ini sudah jelas dan tegas yaitu :

“Untukmu agamamu, dan untukku agamaku” (QS Al Kafirun : 6)

Demikianlah mudah-mudahan kita dapat menjadi anggota masyarakat yang selalu berbuat baik kepada anggota masyarakat lainnya.

 

Redaksi

(Sumber: Yunahar Ilyas. Kuliah Akhlaq, LPPI, 2007)

published by RISALAH JUMAT

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *