Bahan Kimia Korosif

Pada dasarnya, korosif adalah peristiwa terkikisnya suatu zat oleh zat lain yang merupakan rangkaian dari reaksi oksidasi reduksi, dimana zat yang termakan sebagai reduktor dan zat korosif sebagai oksidator.

Kalau masalah batas pH dari suatu asam lemah yang tidak korosif, tergantung pada zat/unsut yang ditetesi oleh asam tersebut. ada zat yang memerlukan pH yang rendah untuk dapat terjadi peristiwa korosi, adap pula zat yang dapat berkorosi dengan pH yang tidak terlalu asam.

Bahan kimia korosif jika bersentuhan dengan kulit dapat menimbulkan kerusakan berupa rangsangan atau iritasi dan peradangan. Oleh karena itu, bahan korosif biasa dikatakan pula sebagai bahan iritan. Selain kulit, bagian tubuh yang lembab atau berlendir seperti mata dan saluran pernapasan merupakan bagian yang rawan. Bahan korosif dapat dikelompokkan berdasarkan wujudnya: cair, padat dan gas (Hala, dkk., 2005).
Bahan Korosif Cair

Dapat menimbulkan iritasi setempat sebagai akibat reaksi langsung dengan kulit, proses pelarutan (denaturasi) protein pada kulit akibat gangguan keseimbangan membran dan tekanan osmosis pada kulit. Pengaruhnya akan bergantung pada konsentrasi dan lamanya kontak dengan kulit. Asam sulfat pekat dapat menimbulkan luka yang sulit untuk dipulihkan.

Contoh bahan korosif yang berwujud cair:
Asam mineral: asam nitrat, asam klorida, asam sulfat, asam fosfat, asam florida
Asam organik: asam formiat, asam asetat, asam monokloro asetat
Pelarut organik: petroleum, hidrokarbon tetraklorinasi, karbondisulfida, terpentin

Bahan Korosif Padat
Sifat korosif dan panas yang ditimbulkan akibat proses pelarutan adalah penyebab iritasi yang sangat tergantung pada kelarutan zat pada kulit yang lembab. Contoh zat korosif yang berwujud padat adalah :

Basa: NaOH, KOH, Natrium silikat, asam karbonat, CaO, CaC2, Ca(CN)2
Asam: trikloroasetat
Lain-lain: fenol, natrium, kalsium, fosfat, perak, nitrat

Bahan Korosif Gas
Bentuk gas paling berbahaya dibandingkan dengan bahan padat atau cair, karena bahan gas akan menyerang saluran pernapasan yang ditentukan oleh kelarutan gas dalam permukaan saluran yang lembab atau berlendir. Jenis iritan dapat digolongkan pada kecilnya kelarutan yang juga menetukan daerah serangan pada alat pernapasan sebagai berikut:

Kelarutan tinggi, dengan daerah serangan pada bagian atas saluran pernapasan: amoniak, HCl, HF, formaldehid, asam asetat, sulfur klorida, tionil klorida, sulfuril klorida
Kelarutan sedang, efek pada saluran pernapasan bagian atas dan lebih dalam (bronchin) : belerang oksida, klorin, arsen tri klorida, fosforpentaklorida
Lain-lain, efek iritasi oleh mekanisme bukan pelarutan: akrolein, dikloroetil sulfida, dikloro metil eter, dimetil sulfat, kloro pikrin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *