Transaksi Derivatif Menurut Islam

Derivatif adalah kegiatan bisnis yang memisahkan sektor moneter dan riil, yang dibungkus dan dikemas dengan mekanisme securitisation insurance atau guarantee. Pemisahan itu terjadi secara diametral. Dengan keterpisahan itu, maka arus uang (moneter) berkembang melebihi arus barang di sektor riil. Akibatnya muncul buble economy yang menimbulkan keterpurukan ekonomi di negara Asia, Eropa dan Amerika secara berkala.
Berdasarkan realitas itulah, maka Konferensi Tahunan Association of Muslim Scientist di Chicago, Oktober 1998 yang membahas masalah krisis ekonomi Asia dalam perspektif ekonomi Islam, menyepakati bahwa akar persoalan krisis keuangan adalah perkembangan sektor finansial yang berjalan sendiri, tanpa terkait dengan sektor riil.

Alquran dan Transaksi Derivatif
Alquran, QS: 2 :275-279 dengan tegas melarang riba. Pelarangan itu pada hakikatnya merupakan pelarangan terhadap transaksi maya atau derivatif. Firman Allah, “Allah menghalalkan jual-beli (sektor riil) dan mengharamkan riba (tranksaksi maya)”. Dalam transaksi maya, tidak ada sektor riil (barang dan jasa) yang diperjualbelikan. Mereka hanya memperjualbelikan kertas berharga dan mata uang untuk tujuan spekulasi. Tambahan (gain) yang diperoleh dari jual beli itu termasuk kepada riba, karena gain itu diperoleh bighairi wadhin, yakni tanpa ada sektor riil yang dipertukarkan, kecuali mata uang atau kertas-kertas itu sendiri.
Dalam transaski derivatif juga tidak ada ma’kud ’alaih, berupa barang atau jasa yang menjadi rukun dalam transaksi bisnis. Transaski inilah yang dilarang Alquran dan hadits dengan istilah riba dan gharar. Dalam Alquran, QS. ar-Rum : 39, Allah berfirman: “Apa yang kamu berikan (pinjaman) dalam bentuk riba agar harta manusia betambah, maka hal itu tidak bertambah di sisi Allah.” Ayat Alquran tersebut berbicara dalam konteks ekonomi makro, artinya menganalisis ekonomi secara agregat, bukan secara mikro, seperti membandingkan harga jual beli murabahah dengan bunga bank konvesnional.
Bunga bank konvensional bagi banyak orang tak begitu terasa bagi kerusakan ekonomi, tetapi ketika bunga sudah menjadi sistem finansial global dan nasional, maka dampaknya luar biasa jahat bagi pembangunan ekonomi. Bunga, sedikit atau banyak tetap disebut riba, sebagaimana daging babi yang sedikit dengan yang banyak, yang sedikit tetap daging babi juga. Hadits Nabi, “Sedikit dan banyak hukumnya haram”. Demikian pula riba, baik diterapkan dalam ekonomi mikro maupun makro tetap haram.

Islam Melarang ‘Maghrib’
Magrib adalah akronim dari maysir, gharar dan riba. Tiga macam praktik terlarang inilah yang menjadi faktor dan biang utama krisis sistem ekonomi kapitalis. Maysir adalah kegiatan bisnis yang berbentuk judi dan spekulasi. Spekulasi selalu terjadi di pasar modal dalam bentuk short selling dan margin trading. Sedangkan gharar ialah transaksi maya, derivatif dan karena itu ia menjadi bisnis resiko tinggi. Riba ialah pencarian keuntungan tanpa dilandasi kegiatan transaksi bisnis riil.
Di pasar modal seringkali para investor meraup keuntungan tanpa adanya underlying asset, atau sektor riil yang melandasinya. Tujuan investor bukan untuk menanam saham secara riil di sebuah emiten, tetapi semata untuk meraih gain melalui praktik margin trading. Selain itu harus diketahui bahwa di dalam financial market, margin trading dan fiat standart ditetapkan berdasarkan instrumen bunga.

Islam Menganjurkan Keseimbangan
Di pasar uang, kegiatan transaksi spekulasi valas semacam transaksi swap, forward dan options selalu terjadi. Semua transaksi tersebut bertentangan dengan syariah, karena mengandung riba. Sementara itu, ekonomi syariah adalah ekonomi yang berusaha menempatkan keseimbangan antara sektor keuangan dan sektor riil (atau bisa disebut economy 1 on 1). Artinya one monetery unit for one real asset.
Dalam kerangka itulah Ekonomi Islam mengajarkan kegiatan bisnis riil melalui jual beli, bagi hasil dan ijarah. Karena ekonomi Islam tidak memisahkan sektor moneter dan sektor riil, maka jumlah uang yang beredar menurut Islam, ditentukan oleh banyaknya permintaan uang di sektor riil. Menurut Ibnu Taymiyah dalam bukunya Majmu’ Fatawa, jumlah uang yang beredar harus sama banyaknya dengan nilai barang dan jasa dalam perekonomian.
Dari sinilah kemudian muncul perbedaan konsep ekonomi Islam dengan ekonomi kapitalis (konvensional). Namun demikian, Islam terbukti melindungi kepastian dan ketenangan umat manusia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *