Sikap Zuhud

“Ruh Al Qudus (Jibril) membisikkan ke dalam hatiku bahwasanya ruh seseorang tidak akan keluar dari dunia ini hingga sempurna ajalnya dan lengkap rezekinya (yang ditetapkan baginya). Maka carilah rezeki dengan baik dan janganlah karena merasa rezekinya lambat lalu membuat kalian mencarinya dengan bermaksiat kepada Allah. Karena apa yang di sisi Allah tidak didapat kecuali dengan ketaatan kepada-Nya”
(HR Ath-Thabrani dari Abu Umamah, Shahih)

Hiruk pikuk kehidupan dunia dengan ketatnya persaingan di segala bidang banyak menjadikan manusia lupa atau pura-pura lupa aturan. Yang kuat memakan yang lemah, yang kaya ingin mendapatkan segalanya, yang lain berusaha menjatuhkan, dan begitu seterusnya. Kondisi seperti ini sangat membentuk tabiat manusia menjadi orang-orang yang buas dan menghalalkan segala cara apabila tidak berbekal dengan ketaqwaan kepada Allah. Continue reading “Sikap Zuhud”

Jangan Terlena Dengan Dunia

Dunia merupakan kenikmatan yang menipu. Betapa banyak manusia terjerembab ke dalam jebakannya yang membinasakan. Tak jarang kita jumpai manusia berkubang di dalam lumpur dosa tak lain beralasan mengejar dunia. Maka syariat ini memberikan dorongan kepada umatnya untuk tidak tertipu dengan dunia ini. Rasa kagum yang berlebihan terhadap dunia merupakan salah satu sebab tamaknya seseorang terhadap dunia.

Marilah kita perhatikan bahwa Allah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana telah memerintahkan Nabi-Nya untuk bersabar bersama orang-orang yang senantiasa berdoa kepada Rabbnya dan tidak menoleh kepada perhiasan dunia. Continue reading “Jangan Terlena Dengan Dunia”

Indahnya Dunia, Adalah Ujian

Di antara yang harus diingat agar kita berhati-hati dan tidak larut dalam persaingan dunia ini kemudian lupa terhadap akhirat adalah kita harus sadar bahwa dunia ini merupakan ujian semata dan keindahan yang menipu. Allah menciptakan dunia ini untuk menguji para hamba-Nya siapa yang paling baik amalannya. kemudian karena rahmat Allah dan keutamaan-Nya, mereka berhak mendapatkan surga-Nya. Allah berfirman:
“Sesungguhnya Kami telah menjadikan apa yang ada di bumi sebagai perhiasan baginya, untuk Kami uji mereka siapakah di antara mereka yang terbaik perbuatannya.” (QS Al Kahfi : 7).

Rasulullah juga menjelaskan:
“Sesungguhnya dunia ini manis dan hijau. Dan Allah menjadikan kalian silih berganti di atasnya untuk melihat bagaimana amalan kalian, maka berhati-hatilah dari dunia dan wanita. Karena sesungguhnya bencana pertama yang menimpa Bani Israil adalah karena wanita.” (HR Muslim dan Abu Sa’id). Continue reading “Indahnya Dunia, Adalah Ujian”

Teologi Kreatifitas: Meneladani Sifat-sifat Kreatif Allah

Berakhlaklah kamu sebagaimana “akhlak” Tuhan
-Mutiara Kaum Sufi-

Di antara nama-nama Tuhan yang mahaindah adalah Al-Khaliq, Al-Bari’ dan Al-Mushawwir. Al-Khaliq berarti Sang Maha Mencipta Segalanya dari Ketidaan. Al-Bari’ artinya Sang Maha Mencipta Segalanya dalam Bentuk Tertentu. Dan Al-Mushawwir adalah Sang Maha Mencipta Segalanya dalam Tampilan yang Unik dan Indah.

Ketiga nama tersebut mengilusterasikan sifat-sifat kemahaan Allah dalam berdaya-cipta. Masing-masing memberikan tekanan makna yang spesifik dan berbeda-beda. Meskipun demikian, nama Al-Khaliq dinyatakan para ulama sebagai “induk”-nya ketiga makna tersebut. Artinya, selain membawakan makna spesifiknya sendiri Al-Khaliq pada hakikatnya juga menyimpan kilasan-kilasan makna yang terkandung di dalam Al-Bari’ dan Al-Mushawwir. Continue reading “Teologi Kreatifitas: Meneladani Sifat-sifat Kreatif Allah”

kasus Kekerasan dalam Rumah Tangga (KDRT) Dalam Pandangan Islam

“Dan pergaulilah mereka (para isteri) secara makruf”
-Alquran QS. An-Nisa’, 4: 19-

Hingga saat ini kasus Kekerasan dalam Rumah Tangga (KDRT) masih merupakan fenomena sosial yang meresahkan. Ironisnya, tak jarang kasus-kasus KDRT yang umumnya menempatkan perempuan (isteri) dan anak-anak sebagai pihak yang rentan menjadi korban justru dilindungi oleh struktur budaya patriarkhi yang cenderung membiarkan hal itu terjadi tanpa koreksi. Bagaimana Islam menyikapi fenomena tersebut?

Asas Makruf

Dalam pandangan Islam, selain sebagai sarana yang halal untuk penyaluran hasrat seks dan harapan mempunyai keturunan yang baik (hifdz al-‘ird wa al-nasl), perkawinan lebih utamanya ditujukan juga untuk menemukan makna sakinah (ketenangan hati) dan mawaddah wa rahmah (cinta dan kasih sayang) dalam bingkai kehidupan rumah tangga yang harmonis dan lestari [QS. ar-Rum, 30: 21].

Continue reading “kasus Kekerasan dalam Rumah Tangga (KDRT) Dalam Pandangan Islam”

Niat adalah Kunci Diterimanya Amal

Bagi seorang Muslim, beramal adalah sesuatu yang senantiasa melekat di antara rutinitas harian. Melakukan sebuah amal ibadah tidaklah harus berupa hal-hal besar. Justru hal-hal kecil bisa menjadi amalan ibadah yang luar biasa di mata Allah jika disertai dengan niat yang tulus dan ikhlas hanya karena mengharap ridha dari Allah SWT.

Di dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, Rasulullah SAW telah mengutarakan betapa pentingnya niat dalam melakukan segala sesuatu, “Sesungguhnya setiap amal perbuatan tergantung pada niatnya. Dan sesungguhnya setiap orang (akan dibalas) sesuai dengan niatnya. Barangsiapa yang hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya itu kepada Allah dan Rasul-Nya. Dan barangsiapa yang hijrahnya karena urusan dunia yang ingin dicapainya atau karena seorang wanita yang ingin dinikahinya, maka hijrahnya sesuai dengan apa yang diniatkannya tersebut”. Continue reading “Niat adalah Kunci Diterimanya Amal”

Menjadi Muslimah Yang Islami, Refleksi Jati Diri Wanita Muslimah

Sering kita saksikan dalam kehidupan nyata dimana sebagian wanita muslimah di zaman ini terasa telah meninggalkan kepribadiannya. Padahal tingkat pengetahuan muslimah sekarang ini jauh lebih baik dan lebih maju.

Lebih sedih lagi karena kita pun melihat kehidupan muslimah saat ini menjadi terasa aneh. Dikatakan aneh karena dalam beberapa hal begitu serius, tapi dalam hal-hal yang lain sangat jauh dari nilai-nilai agama.

Sebagai contoh, kita bisa menyaksikan seorang wanita muslimah, sangat serius melaksanakan syiar-syiar Islam (melakukan dakwah) dan begitu bersemangat menghadiri majelis-majelis ilmu, tapi tidak menjaga lisannya dari ghibah (menggunjing) dan namimah (mengadu domba). Continue reading “Menjadi Muslimah Yang Islami, Refleksi Jati Diri Wanita Muslimah”

Kontroversi Hari Valentine’s Day

Kamu akan meniru-niru  tradisi (buruk) umat terdahulu sejengkal demi sejengkal,

hingga seandainya mereka memasuki liang biawak pun kamu akan ikut-ikutan memasukinya

-HR. Bukhari & Muslim-

 

Valentine’s Day (VD) selama ini banyak dipersepsikan utamanya oleh kawula muda sebagai hari besar cinta dan kasih sayang. Tidak sedikit yang menjadikan hari tersebut sebagai momentum untuk menyatakan cinta kepada orang yang dicintai. Berbagai model pesta cinta diadakan di mana-mana. Ironisnya tak jarang remaja-remaja muslim ikut-ikutan merayakannya dengan cara-cara yang jauh dari etika keislaman atau bahkan diharamkan. Continue reading “Kontroversi Hari Valentine’s Day”

Ketika Ikhlas Berbicara

“Dia (Iblis) berkata: Maka dengan kemahaperkasaan-Mu akan kuperdaya mereka (umat manusia); kecuali hamba-hamba-Mu dari mereka yang dianugerahi keikhlasan” [Alquran, QS. Shad, 38: 82-83] Kata ikhlas lazim digunakan dalam percakapan sehari-hari. Arti atau makna yang dimaksudkan pun beragam. Antara lain ialah menunjukkan arti ”rela; memberi dengan sepenuh hati; tabah menghadapi musibah; mau menerima kenyataan; merasa cukup dengan rezeki yang didapat; dan seterusnya”. ”Sudahlah. Ikhlaskan saja. Toh jumlah nominalnya tak seberapa”. ”Berarti anda sewaktu memberikan hadiah itu kepadaku tidak benar-benar ikhlas ya. Pantas saja sering diungkit-ungkit”. ”Ini adalah musibah. Hadapi saja dengan penuh keikhlasan”. ”Meski tahu kalau ini salah dan dosa, tapi saya ikhlas menjalaninya demi masa depan anak-anak saya”.

Itulah beberapa contoh penggunaan kata ikhlas dengan ragam artinya yang berbeda-beda. Dalam KBBI sendiri, ikhlas diartikan ”bersih hati; tulus hati”, semisal dalam ungkapan ”memberi pertolongan dengan ikhlas —artinya setulus hati, tanpa pamrih”. Sementara itu, keikhlasan dijabarkan sebagai ”ketulusan hati; kejujuran; kerelaan”. Ditelusuri secara filologis, kata ikhlas sejatinya adalah serapan dari kata Arab: al-ikhlash, bentukan huruf dasar kha’-lam-shad, yang simpul maknanya menunjukkan ”keadaan sesuatu yang murni, tak tercampuri hal yang membuat buruk, tulus, merupakan saripati, dan bergerak lancar atau bebas tanpa hambatan”. Continue reading “Ketika Ikhlas Berbicara”

Lapang Sikapi Perbedaan

Ditulis Oleh: Umar Fayumi – IbadahNews

“Dan Kami (Allah) tidak mengutusmu (Muhammad) kecuali menjadi rahmat bagi alam semesta” -Alquran, QS. Al-Anbiya’, 21:107-

Islam diturunkan sebagai agama yang rahmatan lil ‘alamin, yakni menebarkan rahmat dan perdamaian bagi alam semesta. Ide dasar perdamaian ini merupakan satu di antara prinsip-prinsip utama ajaran Islam yang membingkai seluruh aspek dan sendi tatanannya, termasuk yang berkaitan dengan masalah akidah atau keyakinan.

Bertolak dari ide dasar tersebut Islam mengajarkan toleransi antar umat beragama sebagaimana sabda Nabi: ”Agama yang paling disukai Allah adalah yang lurus dan lapang (toleran)” [HR. Bukhari di al-Adab al-Mufrad, dan Ahmad]. Continue reading “Lapang Sikapi Perbedaan”